HIMA IF

Dikaji Oleh: Diki Sugiantoro
Divisi: Ekstrakampus
Pekik “mahasiswa sebagai agen perubahan” (agent of change) kini kerap tenggelam oleh ramainya linimasa LinkedIn yang sarat pamer sertifikat dan riwayat magang (Jannah & Sulianti, 2021). Fenomena ini memicu tanda tanya besar: apakah mahasiswa hari ini masih memiliki kepekaan terhadap isu publik, atau sekadar berburu ijazah demi lolos saringan kerja korporasi?
Sikap pragmatis ini sejatinya bukan semata tanda hilangnya idealisme, melainkan respons rasional untuk bertahan hidup. Kenaikan biaya kuliah dan ketatnya persaingan bursa kerja memaksa mahasiswa berpikir realistis saat institusi pendidikan tinggi disibukkan oleh prestise dan akreditasi (Arinafril, 2025). Akibat dorongan konsep link and match yang kerap dimaknai sempit, kampus terdorong bertransformasi layaknya pabrik pencetak tenaga kerja siap pakai bagi industri (SEVIMA, 2024). Di jurusan informatika, mahasiswa tekun dilatih merakit baris kode dan model kecerdasan buatan, tetapi jarang diajak menelaah dimensi etis serta dampak sosial dari sistem algoritma yang mereka rancang (Ningrum et al., 2025).
Kesenjangan cara pandang ini melahirkan jurang yang kian lebar antara “menara gading” akademis dan realitas sosial di luar pagar kampus. Paradoks kerap terlihat ketika mahasiswa teknologi piawai memenangi kompetisi perangkat lunak berskala nasional, sementara pelaku UMKM dan pedagang kecil di lingkar kampus masih bergelut dengan keterbatasan operasional serta tata kelola digital yang mendasar. Hubungan dengan dunia luar kampus pun acap kali dipersempit sebatas relasi transaksional—seperti mengejar kemitraan korporasi atau perburuan sponsor kegiatan—alih-alih membangun ruang temu dan pendampingan masyarakat yang substantif.
Menjadi agen perubahan di era digital tidak lagi melulu diterjemahkan lewat orasi atau aksi turun ke jalan. Mahasiswa informatika memiliki daya tawar yang jauh lebih transformatif ketika keahlian teknologinya diarahkan untuk menyelesaikan problem publik secara presisi, antara lain:
1. Transparansi Kebijakan Publik: Mengembangkan perangkat lunak sumber terbuka (open source) berbasis web semantik atau data terbuka guna memantau keterbukaan anggaran daerah (Rahman et al., 2025).
2. Pemberdayaan Komunitas Lokal: Menginisiasi program literasi digital dan pendampingan adopsi teknologi tepat guna bagi kelompok warga serta pelaku usaha mikro di sekitar kampus.
3. Advokasi dan Literasi Teknologi: Mengkaji secara kritis risiko kebocoran data, bias algoritma, serta implikasi etika teknologi cerdas yang berpotensi merugikan masyarakat (Ningrum et al., 2025).
Mengejar kematangan karier profesional dan membela kepentingan publik bukanlah dua hal yang saling meniadakan. Keduanya dapat berjalan beriringan ketika kompetensi teknis dipadukan dengan keberpihakan sosial—menghasilkan rekam jejak portofolio yang tidak hanya bernilai jual bagi rekruter, tetapi juga berfaedah nyata bagi sesama. Sudah saatnya mahasiswa informatika memelopori kultur baru: membuktikan bahwa sebaris kode program bukan sekadar komoditas pasar, melainkan instrumen advokasi dan emansipasi yang mampu menyentuh persoalan warga akar rumput.
| Aspek | Pengejar Gelar | Aksi Konvensional | Solusi Digital (Arah Baru) |
| Fokus | Sertifikat, IPK, dan kelayakan CV | Orasi dan mobilisasi unjuk rasa | Penguasaan keahlian teknis untuk isu publik |
| Karya | Tugas kuliah dan portofolio pasif | Pernyataan sikap dan rilis politik | Perangkat lunak terbuka dan literasi warga |
| Dampak | Manfaat pribadi semata | Dinamika jangka pendek | Solusi sistematis yang berdaya tahan |
Referensi / Sumber
Arinafril. (2025, 18 November). Kampus sibuk mengurus prestise, lulusan sibuk mengurus lamaran. Kompas.com. https://www.kompas.com/edu/read/2025/11/18/ 204804371/kampus-sibuk-mengurus-prestise-lulusan-sibuk-mengurus-lamaran
Jannah, F., & Sulianti, A. (2021). Perspektif mahasiswa sebagai agen of change melalui pendidikan kewarganegaraan. Asanka: Journal of Social Science and Education, 2(2), 181–193.
Ningrum, T. S., Anspratiwi, V. D., & Wahyudi, M. (2025). Etika dan dampak sosial dari penerapan artificial intelligence dalam sistem informasi manajemen. Jurnal Riset Sistem Informasi, 2(1), 6–15. https://doi.org/10.69714/26ypxk67
Rahman, D. F., Setiyawan, R., & Artanto, H. (2025). Semantic web implementation for enhancing budget transparency in Yogyakarta City government: An ontology and RDF-based framework. Djtechno: Jurnal Teknologi Informasi, 6(3), 878–892.
SEVIMA. (2024, 3 Oktober). Apa itu link and match antara pendidikan dan dunia kerja? https://sevima.com/arti-link-and-match-pendidikan-dan-dunia-kerja/
