Masih Relevankah Keberadaan BEM di Era Digital dan Individualisme Mahasiswa? – MINI RESONANSIF

Dikaji Oleh: Rizky Dzulfikar Ahmad
Divisi: Ekstrakampus (EXT)

Pendahuluan

Keberadaan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) sebagai wadah representasi tertinggi ma-
hasiswa di tingkat kampus menghadapi tantangan eksistensial yang besar di era digital.
Berdasarkan hasil survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII, 2024),
tingkat penetrasi internet di Indonesia telah melonjak mencapai 79,5% atau setara dengan
221 juta jiwa. Dari total populasi yang terkoneksi internet tersebut, Generasi Z yang saat
ini menduduki bangku perkuliahan menjadi demografi pengguna yang paling dominan
dengan angka kontribusi sebesar 34,40% (APJII, 2024).


Tingginya interaksi di dunia maya ini memicu pergeseran gaya hidup ke arah individu-
alisme fungsional; mahasiswa saat ini seringkali berpikir lebih rasional, memiliki mana-
jemen waktu yang padat, dan cenderung enggan mengikatkan diri pada hal-hal birokratis
yang dianggap membatasi fleksibilitas mereka. Hal ini pada akhirnya berujung pada me-
nurunnya minat berorganisasi secara formal (Piara dan Firmansyah, 2024). Kajian ini
akan menganalisis sejauh mana BEM masih relevan di tengah karakteristik mahasiswa
modern yang pragmatis dan sangat terikat dengan ekosistem digital.

Pembahasan

1. Konteks Isu

Mahasiswa masa kini hidup di tengah arus informasi yang serba instan. Secara umum,
jumlah minat mahasiswa untuk mengikuti dan berpartisipasi dalam organisasi kampus,
seperti BEM atau Himpunan Mahasiswa (HIMA), terbukti mengalami penurunan signi-
fikan (Maulidya et al., 2023). Fenomena ini secara lugas disebut sebagai ”meredupnya
popularitas BEM”, di mana gairah aktivisme mahasiswa konvensional di jalanan maupun
di ruang-ruang rapat makin menyusut (El Nur, 2023). Meskipun pengalaman di dalam
organisasi konvensional sebenarnya sulit didapatkan hanya melalui kegiatan akademik
(Maulidya et al., 2023), kenyamanan birokrasi yang rendah seringkali disebarkan antar
mahasiswa sehingga menghambat minat angkatan baru untuk bergabung (Piara dan Fir-
mansyah, 2024).

2. Analisis & Argumentasi

Penurunan minat pada BEM tidak boleh serta-merta disimpulkan sebagai bentuk apatisme
Generasi Z. Mahasiswa cenderung beralih pada ruang yang memfasilitasi kecepatan ko-
nektivitas, akses informasi, dan komunikasi yang lebih cair (Universitas Negeri Jakarta,
2024). Mereka telah menemukan bentuk partisipasi baru melalui konvergensi aktivisme
digital dan slacktivism (El Nur, 2023). Penggalangan petisi elektronik atau kampanye di
media sosial dianggap jauh lebih efisien untuk mendapatkan atensi publik dibandingk-
an harus melalui jalur audiensi formal BEM yang seringkali terbentur oleh aturan baku
birokrasi yang kaku.

3. Dampak & Implikasi

Pergeseran preferensi pergerakan ini memiliki implikasi nyata terhadap eksistensi kelem-
bagaan mahasiswa. Kurangnya motivasi internal dari mahasiswa untuk mengembangkan
potensi kepemimpinannya melalui wadah resmi kampus (Piara dan Firmansyah, 2024)
berdampak langsung pada krisis regenerasi. Jika BEM terus mempertahankan pendekat-
an elitis dan alur kerja birokrasi yang memakan waktu, lembaga ini terancam kehilangan
marwah politiknya dan hanya akan beralih fungsi menjadi pelaksana kegiatan seremonial
atau event organizer tahunan kampus.

4. Solusi / Rekomendasi

Agar tetap memiliki daya pikat dan fungsi yang krusial bagi mahasiswa di era digital,
BEM perlu melakukan transformasi internal:

  1. Restrukturisasi Agile: Mengubah struktur hierarki yang kaku menjadi satuan tu-
    gas (task-force) berbasis proyek dengan durasi yang lebih singkat agar tidak mem-
    bebani manajemen waktu mahasiswa modern (Piara dan Firmansyah, 2024).
  2. Integrasi Platform Digital: Memanfaatkan tingginya akses internet di kawasan
    kampus (APJII, 2024) untuk membangun sistem aspirasi dan aduan elektronik yang
    transparan serta responsif.
  3. Aktivisme Isu Riil: BEM harus fokus mengawal isu-isu yang bersentuhan lang-
    sung dengan kesejahteraan mahasiswa (seperti biaya pendidikan dan fasilitas) me-
    lalui metode kampanye konvergensi media yang kreatif (El Nur, 2023).

Kesimpulan

Secara esensial, filosofi dan tujuan keberadaan BEM sebagai wadah pergerakan mahasis-
wa masih sangat relevan. Namun, sistem operasionalnya terbukti sudah usang di mata
Generasi Z yang mendominasi dunia digital (APJII, 2024). Untuk mengatasi merosot-
nya motivasi mahasiswa dalam berorganisasi (Piara dan Firmansyah, 2024), BEM harus
berani meleburkan nilai keorganisasian konvensional dengan inovasi aktivisme digital (El
Nur, 2023), sehingga organisasi ini kembali menjadi wadah kolaborasi yang efisien, trans-
paran, dan berdampak nyata.

Daftar Pustaka

APJII. (2024). Survei Penetrasi dan Perilaku Pengguna Internet Indonesia Tahun 2024.
Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia. URL: https://apjii.or.id


El Nur, A. B. P. (2023). Meredupnya popularitas BEM: Gairah aktivisme mahasiswa
makin menurun, mengapa dan bagaimana solusinya?. The Conversation Indonesia.
URL: https://theconversation.com/meredupnya-popularitas-bem-gaira
h-aktivisme-mahasiswa-makin-menurun-mengapa-dan-bagaimana-solusin
ya-197881


Maulidya, R., Silalahi, D., et al. (2023). Penurunan Minat Mahasiswa untuk Berpartisi-
pasi dalam Organisasi. Maliki Interdisciplinary Journal. URL: https://urj.uin-m
alang.ac.id/index.php/mij/article/view/11305
Piara, M., & Firmansyah, M. R. (2024). Minat Organisasi Mahasiswa Menurun? Apa Sih


Penyebabnya?. UIN Mahmud Yunus Batusangkar. URL: https://uinmybatusangk
ar.ac.id/minat-organisasi-mahasiswa-menurun-apa-sih-penyebab-nya/


Universitas Negeri Jakarta. (2024). BAB I PENDAHULUAN: Pertumbuhan Penetrasi In-
ternet Indonesia. Repository UNJ. URL: http://repository.unj.ac.id/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *