BEM Redup: Sekarat atau Sedang Bertransformasi? – MINI RESONANSIF

Dikaji Oleh: Naufal Arrafi Revanza
Divisi: Riset dan Keprofesian (RDK)

Pendahuluan

Setiap kali musim Pemilihan Raya kampus tiba, satu pertanyaan klasik selalu muncul di linimasa
mahasiswa: "Buat apa sih ikut BEM?" Pertanyaan ini bukan sekadar candaan. Ia mencerminkan
keresahan yang lebih dalam, yaitu apakah Badan Eksekutif Mahasiswa, organisasi yang dulu digadang-
gadang sebagai wadah pengkaderan calon pemimpin bangsa, masih punya tempat di tengah generasi yang lebih akrab dengan Tiktok, Discord, dan LinkedIn ketimbang rapat konsolidasi sampai dini hari.


Fenomena ini bukan ilusi. Penelitian di Jurnal Penelitian Ilmiah Multidisipliner tahun 2025
menyebutkan 62% mahasiswa di beberapa universitas Jawa Tengah menunjukkan tingkat individualisme
tinggi, ditandai kecenderungan menghindari diskusi kelompok dan memilih kerja mandiri (Munawaroh
dkk., 2025). Di FKIP UMSU, partisipasi mahasiswa dalam Pemira menurun dari 1.889 (2023) menjadi
1.818 orang (2024). Sebagai mahasiswa, isu ini terasa dekat. Kita hidup di lingkungan yang
mengkultuskan self-development. Pertanyaannya jujur saja, apakah BEM masih punya nilai, atau sekadar
sisa nostalgia generasi '98 yang dipaksa hidup di era TikTok? Kajian ini berargumen BEM masih relevan,
dengan satu syarat besar: ia harus mau ditampar oleh zaman

Pembahasan

1. Konteks: Generasi yang Tumbuh dengan Layar

Mahasiswa hari ini tumbuh di tengah dua paradoks. Pertama, generasi paling terhubung secara digital,
tapi paling sering dilabeli individualis. Munawaroh dkk. (2025) mengidentifikasi penyebabnya, yaitu
dominasi aktivitas digital, kecenderungan belajar mandiri, fokus pencapaian personal, dan tuntutan
akademik ketat. Kedua, tekanan ekonomi dan kompetisi kerja jauh lebih brutal. Tulisan opini di
mahasiswaindonesia.id (2025) menyebut mahasiswa sekarang "lebih memilih fokus pada IPK tinggi,
magang di perusahaan besar, atau membangun portofolio untuk menarik HRD." Ini bukan kesalahan
mahasiswa, tapi logika bertahan hidup. BEM kini bersaing bukan hanya dengan organisasi lain, tapi
dengan Coursera, Dicoding, dan side hustle. Pertarungannya soal opportunity cost.

2. Argumentasi: Mengapa BEM Justru Semakin Dibutuhkan

  • Pertama, advokasi struktural tidak bisa digantikan aktivisme digital individu. Pada Februari 2025, BEM SI menggerakkan aksi "Indonesia Gelap" yang melibatkan sekitar 5.000 mahasiswa di Jakarta, Bandung, Surabaya, Malang, Banjarmasin, Aceh, dan Bali (IDN Times, 2025). Aksi ini menuntut pencabutan Inpres No. 1/2025 yang memangkas anggaran Kemendiktisaintek dari Rp57,6 triliun menjadi sekitar Rp35 triliun (Tempo, 2025). Siapa yang bisa mengorganisir 5.000 mahasiswa dari puluhan kampus dalam hitungan minggu kalau bukan struktur BEM? Postingan Instagram individu bisa viral, tapi tidak bisa menggerakkan blokade jalan di depan Patung Kuda.
  • Kedua, BEM punya legitimasi formal untuk bernegosiasi. Ketika ada kenaikan UKT atau revisi UU
    Minerba yang menyeret kampus, yang ditemui Rektorat atau DPR adalah BEM, bukan akun Twitter
    dengan 50 ribu followers. Tanpa BEM, suara mahasiswa kembali ke titik nol, yakni keluhan personal
    yang tenggelam di timeline.
  • Ketiga, individualisme yang merajalela justru alasan kuat mempertahankan ruang kolektif. Kalau tren
    ini dibiarkan, kampus akan menghasilkan lulusan yang technically skilled tapi socially blind, jago coding atau teknis lainnya tetapi tidak peduli ketika lingkungannya dirusak proyek strategis nasional. BEM, dengan segala kekurangannya, masih satu dari sedikit ruang yang memaksa mahasiswa keluar dari gelembung kepentingan pribadinya

3. Tapi Mari Jujur: BEM Punya Banyak Masalah Internal

Argumen di atas hanya valid kalau BEM-nya berfungsi. Realitanya, banyak yang tidak. Tulisan di Semut
Api Media (2025) menyebut banyak organisasi mahasiswa, termasuk BEM dan Cipayung Plus,
berbenturan dengan dualisme kepengurusan dan tertarik ke politik praktis. Partai Golkar bahkan pernah
merekrut eks pimpinan BEM ke organisasi sayapnya (AMPI). Ini fakta yang membuat kecurigaan
mahasiswa terhadap BEM punya dasar. Belum lagi keluhan klasik bahwa BEM dianggap elitis,
agendanya tidak nyambung dengan kebutuhan mahasiswa biasa (WiFi lemot, kantin mahal), dan kadang
lebih sibuk dengan citra Instagram. Konflik BEM UI vs BEM se-Jabodetabek pada 2021 (Merdeka, 2021)
menunjukkan BEM sendiri sering kehilangan kompas

4. Solusi: BEM Harus Mereformasi Diri

Saya tidak akan menutup dengan kalimat heroik "mari kembali ke BEM!" karena itu naif. Mahasiswa
tidak akan kembali hanya karena diceramahi. BEM-lah yang harus berubah:

  • Audit ulang program kerja. Berapa banyak program BEM yang benar-benar menyelesaikan masalah
    konkret mahasiswa, dan berapa banyak yang sekadar "agenda tahunan"?
  • Manfaatkan digital, jangan musuhi. Advokasi via thread berbasis data, konsultasi UKT via Discord,
    transparansi anggaran via dashboard publik. Generasi ini bukan anti-kolektif, melainkan anti-kolektif
    yang membuang waktu.
  • Jaga jarak dari politik praktis. BEM harus mengembalikan diri sebagai laboratorium kebebasan
    akademik, tempat ide diadu, bukan kursi kekuasaan diperebutkan.
  • Buka pintu untuk yang "individualis." Stop mengkultuskan komitmen 24/7. Mahasiswa yang sibuk
    magang remote juga berhak berkontribusi lewat satu kajian, satu sistem informasi internal, atau satu
    thread advokasi.

Kesimpulan

Pertanyaan "masih relevankah BEM?" sebenarnya salah arah. Pertanyaan yang lebih tepat adalah "BEM
seperti apa yang masih relevan?" BEM tetap relevan, bahkan semakin diperlukan, karena tiga alasan.
Pertama, ia satu-satunya struktur formal yang bisa mengorganisir advokasi berskala besar (terbukti dari
Indonesia Gelap 2025). Kedua, ia penyeimbang struktural terhadap birokrasi kampus dan negara. Ketiga,
ia benteng terakhir terhadap atomisasi sosial. Tapi relevansi ini tidak otomatis. BEM yang elitis, sibuk
dengan citra, dan terjebak politik praktis akan mati pelan-pelan, dan itu salah BEM, bukan salah
mahasiswa. Era digital dan individualisme bukan musuh BEM, melainkan cermin yang menunjukkan
BEM perlu reinvensi. Sikap saya kritis terhadap BEM, tapi tidak menyerah pada keberadaannya. Karena
ketika kita kehilangan ruang kolektif terakhir, yang hilang bukan hanya organisasi, tapi kemampuan kita
untuk peduli pada apa yang lebih besar dari diri sendiri.

Referensi / Sumber

Munawaroh, F., Handayani, S., & Nur, D. M. M. (2025). Individualisme di Kalangan Mahasiswa di Era
Digital dan Implikasinya Terhadap Nilai-Nilai Sosial dalam Pendidikan IPS. JPIM, Vol. 02 No. 3 https://ojs.ruangpublikasi.com/index.php/jpim/article/view/1207

Tempo. (2025, 17 Februari). Apa Saja Tuntutan BEM SI di Aksi Indonesia Gelap?
https://www.tempo.co/politik/apa-saja-tuntutan-bem-si-di-aksi-indonesia-gelap--1208625

IDN Times. (2025, 17 Februari). Tagar Indonesia Gelap Viral, 5 Ribu Mahasiswa Demo.
https://www.idntimes.com/news/indonesia/mahasiswa-bergerak-tagar-indonesia-gelap-viral-di-x-
00-l8swn-jnkhbz

Detik News. (2025, 20 Februari). BEM SI Gelar Puncak Demo 'Indonesia Gelap' di Jakarta.
https://news.detik.com/berita/d-7786676/bem-si-gelar-puncak-demo-indonesia-gelap-di-jakarta-
siang-ini

Peran Organisasi Kemahasiswaan dalam Penguatan Demokrasi Partisipatif. Jurnal JPCE UMSU. (2024).
https://jurnal.umsu.ac.id/index.php/jpce/article/download/25229/pdf

Mahasiswa Indonesia. (2025, 8 Mei). Apatisme Mahasiswa dan Hilangnya Semangat Perjuangan.
https://mahasiswaindonesia.id/apatisme-mahasiswa-dan-hilangnya-semangat-perjuangan/

Semut Api Media. (2025, 11 Oktober). Reposisi dan Kritik Gerakan Mahasiswa Hari Ini.
https://semutapi.id/reposisi-dan-kritik-gerakan-mahasiswa-hari-ini/

Merdeka.com. (2021, 30 Juni). Kritik BEM UI, Politik Mahasiswa adalah Pengabdian bukan Praktis.
https://www.merdeka.com/peristiwa/kritik-bem-ui-politik-mahasiswa-adalah-pengabdian-bukan-
praktis.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *