HIMA IF

Antara Kode dan Kata: Krisis Komunikasi di Kalangan Mahasiswa Informatika dalam Menyongsong Dunia Kerja Digital
Abstrak
Di tengah kemajuan teknologi informasi, mahasiswa Informatika sering digambarkan sebagai
sosok yang rasional dan logis, namun ironisnya banyak yang kesulitan menyampaikan ide
secara efektif. Kajian ini menelusuri paradoks antara kemampuan teknis (kode) dan
kemampuan komunikasi (kata) di kalangan mahasiswa Informatika. Penulis menyoroti
penyebab utama krisis komunikasi seperti orientasi pendidikan yang terlalu teknosentris dan
dampak budaya digital yang mengikis interaksi sosial langsung. Pembahasan juga
menyinggung peran lingkungan kampus, termasuk organisasi kemahasiswaan, dalam
menyediakan ruang pembelajaran sosial sebagai penyeimbang. Kajian ini bertujuan
mendorong kesadaran bahwa komunikasi adalah kunci bagi mahasiswa Informatika untuk
mengaktualisasikan kompetensi teknisnya di dunia profesional.
Kata Kunci: Mahasiswa Informatika, komunikasi, soft skill, pendidikan tinggi, dunia kerja
digital.
1. Latar Belakang
Dalam era di mana teknologi menjadi nadi kehidupan manusia, mahasiswa Informatika tumbuh
sebagai generasi yang fasih dengan bahasa mesin, namun tidak selalu fasih berbicara dengan
manusia. Mereka dapat mengurai algoritma kompleks, tetapi sering kali terdiam ketika diminta
memaparkan ide di depan audiens. Fenomena ini mengindikasikan adanya kesenjangan serius
antara kemampuan teknis dan kemampuan komunikasi, antara “kode” dan “kata”.
Kemajuan teknologi digital seharusnya membuka peluang komunikasi tanpa batas, namun
yang terjadi justru sebaliknya. Mahasiswa semakin terisolasi dalam dunia virtual yang minim
tatap muka. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh LinkedIn Learning (2024) terhadap 2.000
profesional muda di bidang teknologi, ditemukan bahwa 72% lulusan IT mengaku kurang
percaya diri ketika harus berbicara di depan publik, dan lebih dari 60% perusahaan menilai
komunikasi efektif sebagai tantangan utama karyawan baru dari jurusan teknis.
Temuan tersebut mengindikasikan adanya paradoks antara kemajuan teknologi dan
keterampilan manusia yang mendasarinya. Fenomena ini menunjukkan bahwa meskipun
kemampuan teknis meningkat, keterampilan komunikasi justru mengalami stagnasi. Ketika
kebiasaan komunikasi digital yang serba cepat dan instan terbawa ke dunia akademik,
kemampuan untuk menyampaikan ide, berdiskusi, atau memimpin menjadi tantangan besar
yang tidak bisa diabaikan.
Fenomena ini penting dikaji karena dunia kerja digital tidak hanya menilai sejauh mana
seseorang mampu menulis kode, tetapi juga sejauh mana ia mampu menjelaskan, bernegosiasi, dan berkolaborasi. Tanpa kemampuan berkomunikasi, pengetahuan tinggi akan berakhir dalam
kesunyian intelektual.
2. Rumusan Masalah
- Apa faktor utama yang menyebabkan krisis komunikasi di kalangan mahasiswa
Informatika? - Bagaimana dampak krisis komunikasi terhadap kesiapan mereka menghadapi dunia
kerja digital? - Bagaimana strategi lingkungan kampus dapat membantu mahasiswa menemukan
keseimbangan antara kemampuan teknis dan komunikasi?
3. Tujuan Kajian
- Menelaah kesenjangan antara kemampuan teknis dan komunikasi di kalangan
mahasiswa Informatika. - Mengidentifikasi faktor penyebab krisis komunikasi pada mahasiswa Informatika di era
digital. - Menawarkan pendekatan pengembangan kemampuan komunikasi yang relevan dengan
konteks pendidikan Informatika modern.
4. Tinjauan Pustaka
Menurut LinkedIn Global Talent Report (2024), kemampuan komunikasi termasuk dalam tiga
besar kompetensi non-teknis yang paling dicari oleh perusahaan teknologi. Di sisi lain, Fitria
(2022) menunjukkan bahwa pendidikan Informatika di Indonesia masih terlalu berorientasi
pada kemampuan teknis, dengan porsi pelatihan komunikasi yang minim.
Nasrullah (2021) menjelaskan bahwa budaya digital telah mengubah cara manusia berinteraksi,
menciptakan “koneksi tanpa kedekatan”. Interaksi berbasis teks mempercepat pertukaran
informasi, namun mengurangi kedalaman komunikasi antarpribadi. Sedangkan Hidayat (2023)
menemukan bahwa mahasiswa IT di Indonesia menunjukkan tingkat kecemasan tinggi ketika
berbicara di depan umum, akibat kurangnya kesempatan latihan komunikasi interpersonal di
lingkungan akademik.
Menurut teori Komunikasi Interpersonal dari Littlejohn & Foss (2011), komunikasi bukan
hanya proses penyampaian pesan, tetapi juga pembentukan makna sosial di antara individu.
Dalam konteks pendidikan tinggi, kemampuan berkomunikasi membantu mahasiswa tidak
hanya mengirimkan informasi, tetapi juga membangun pemahaman bersama dalam kerja tim.
Sementara Griffin (2020) menekankan bahwa komunikasi efektif di lingkungan profesional
melibatkan tiga unsur: clarity (kejelasan ide), confidence (kepercayaan diri), dan connection
(kemampuan menjalin hubungan).
Dalam bidang Informatika, soft skill theory oleh Robles (2012) juga menyebutkan bahwa
kemampuan komunikasi, etika kerja, dan kerja tim merupakan penentu utama keberhasilan
karier di dunia teknologi yang dinamis. Dengan demikian, krisis komunikasi di kalangan
mahasiswa Informatika bukan sekadar masalah perilaku, tetapi berakar pada lemahnya
pengembangan soft skill di lingkungan pendidikan teknis.
5. Pembahasan
5.1. Antara Kode dan Kata: Dua Dunia yang Berbeda
Mahasiswa Informatika hidup di antara dua dunia: dunia kode yang menuntut presisi, dan dunia
kata yang menuntut ekspresi. Dalam dunia kode, benar dan salah adalah hitam-putih; dalam
dunia kata, makna dan interpretasi bersifat cair. Keduanya sama penting, namun sering kali
yang pertama mendapat porsi lebih besar dalam pendidikan formal.
Kelebihan fokus pada aspek teknis membuat mahasiswa kurang terlatih menyampaikan
pemikirannya dengan bahasa manusia. Mereka bisa menulis function yang efisien, tapi tidak
bisa menjelaskan fungsi itu kepada orang non-teknis. Ketidakseimbangan ini melahirkan
generasi “pintar tapi diam”, cerdas secara logika, namun gagap secara sosial.
5.2. Dampak Budaya Digital terhadap Pola Komunikasi
Budaya digital turut memperdalam jurang antara kemampuan teknis dan sosial. Menurut
Nasrullah (2021), ruang digital menciptakan “komunikasi tanpa kedekatan” di mana
konektivitas tinggi tidak selalu berarti keterhubungan emosional. Mahasiswa Informatika, yang
sebagian besar beraktivitas di ruang daring seperti GitHub, Discord, atau Stack Overflow,
cenderung berinteraksi dengan pola komunikasi yang efisien namun impersonal.
Dalam teori Computer-Mediated Communication (CMC) oleh Walther (1996), komunikasi
berbasis teks memiliki keterbatasan dalam menyampaikan emosi dan ekspresi non-verbal,
sehingga mengurangi kepekaan sosial penggunanya. Pola ini dapat menjelaskan mengapa
mahasiswa IT lebih cepat menulis kode daripada membangun percakapan mendalam.
Akibatnya, kemampuan mereka dalam public speaking, argumentasi, dan negosiasi menjadi
tumpul.
5.3. Menemukan Titik Temu antara Kode dan Kata
Solusi terhadap krisis ini bukan dengan mengurangi fokus pada kemampuan teknis, tetapi
menyeimbangkannya dengan pelatihan komunikasi yang relevan dengan konteks Informatika.
Misalnya, mahasiswa dapat dilatih untuk:
- Menulis dokumentasi proyek dengan bahasa yang komunikatif.
- Melakukan pitching ide teknologi kepada non-teknisi.
- Mengikuti forum diskusi atau seminar untuk melatih public speaking.
Di sinilah peran lingkungan kampus menjadi penting. Tidak hanya melalui mata kuliah, tetapi
juga kegiatan sosial akademik. Misalnya, ketika mahasiswa terlibat dalam proyek tim, mereka
didorong untuk aktif berdiskusi, mempresentasikan hasil kerja, dan memberi umpan balik satu
sama lain.
Selain itu, organisasi kemahasiswaan seperti Himpunan Mahasiswa Informatika (HIMA) dapat
berperan sebagai wadah latihan non-formal. Dalam berbagai kegiatan, mahasiswa belajar
berbicara di forum, menyusun laporan, dan bekerja dalam tim lintas karakter. Walau bukan
solusi utama, keberadaan organisasi menjadi ruang sosial yang melengkapi pembelajaran
formal.
6. Kesimpulan dan Saran
Krisis komunikasi di kalangan mahasiswa Informatika adalah cerminan dari
ketidakseimbangan antara dunia kode dan dunia kata. Pendidikan tinggi yang terlalu
menekankan aspek teknis membuat mahasiswa unggul dalam logika tetapi tertinggal dalam
ekspresi. Sementara budaya digital memperkuat kecenderungan untuk berkomunikasi cepat
namun dangkal.
Untuk menjawab tantangan ini, perlu dibangun kesadaran bahwa kemampuan komunikasi
tidak mengurangi profesionalitas teknis, melainkan memperkuatnya. Kampus dapat
memperkaya kurikulum dengan tugas presentasi, proyek kolaboratif, dan pelatihan
komunikasi. Mahasiswa pun perlu membiasakan diri menyampaikan ide, berdiskusi, dan
berlatih berbicara di depan publik.
Ketika keseimbangan antara kode dan kata terwujud, mahasiswa Informatika tidak hanya akan
dikenal karena kecerdasan algoritmiknya, tetapi juga karena kemampuannya
mengartikulasikan ide, menginspirasi rekan, dan berkontribusi secara sosial. Dunia kerja
digital memerlukan profesional yang bukan hanya problem solver, tetapi juga storyteller,
mereka yang mampu menjelaskan makna di balik teknologi.
Krisis komunikasi bukan akhir dari kompetensi teknis, melainkan panggilan untuk menyatukan
logika dan empati, presisi dan ekspresi, antara pikiran mesin dan suara manusia. Dan di sanalah
masa depan Informatika yang lebih manusiawi akan dibangun.
Daftar Pustaka
- LinkedIn Learning. (2024). Workplace Learning Report: Soft Skills in the Tech Industry. LinkedIn Corporation.
- Fitria, N. (2022). Soft skill development in informatics education: Challenges and opportunities. Journal of Computer Education, 10(2), 45–53.
- Hidayat, M. A. (2023). Keterampilan komunikasi dan kesiapan kerja mahasiswa IT di Indonesia. Jurnal Teknologi dan Pendidikan, 7(1), 89–102.
- LinkedIn Corporation. (2024). The most in-demand skills in the tech industry. Retrieved from https://www.linkedin.com/reports/skills2024
- Nasrullah, R. (2021). Budaya digital dan komunikasi generasi milenial. Bandung: Remaja Rosdakarya.
- Littlejohn, S. W., & Foss, K. A. (2011). Theories of Human Communication (10th ed.). Waveland Press.
- Robles, M. M. (2012). Executive perceptions of the top 10 soft skills needed in today’s workplace. Business Communication Quarterly, 75(4), 453–465.
- Walther, J. B. (1996). Computer-mediated communication: Impersonal, interpersonal, and hyperpersonal interaction. Communication Research, 23(1), 3–43.
- Griffin, E. (2020). A First Look at Communication Theory (10th ed.). McGraw-Hill Education.
- UNESCO. (2022). Future competencies for digital society. Paris: UNESCO Publishing.
