HIMA IF

Self-Branding Mahasiswa di Dunia Digital dan Etika AI: Menyeimbangkan Kreativitas dan Risiko Eksploitasi Diri
Pendahuluan
Dunia profesional saat ini beroperasi pada platform digital, dan tren ini dipercepat secara masif dengan perkembangan kecerdasa buatan atau kerap disapa AI. Bagi mahasiswa, terutama di bidang Informatika, self-branding membangun citra dan reputasi diri secara daring adalah keharusan strategis. Platform seperti Linkedln berfungsi sebagai curriculum vitae (CV) digital yang hidup, dan AI kini menjadi co-pilot dalam proses ini, membantu membuat caption yang teroptimasi, mendesain portofolio, hingga menyarankan konten.
Urgensi isu ini terletak pada konteks teknologi dan etika di mana AI memberikan kemudahan luar biasa dalam produksi citra digital, namun sekaligus menimbulkan dilema etika baru, yaitu keaslian karya dan identitas. Dorongan untuk “selalu terlihat produktif” dan “otentik” kini berhadapan dengan kemudahan menghasilkan konten instan. Mahasiswa berisiko terjerumus ke dalam praktik eksploitasi diri atau menampilkan citra yang sepenunya artifisial, mengorbankan batas privasi dan kejujuran intelektual demi validasi dan jangkauan profesional. Kajian ini bertujuan menganalisis garis tipis antara presentasi diri yang kreatif dengan bantuan AI dan etika eksploitasi diri, serta merumuskan panduan untuk mengelola digital footprint yang bertanggung jawab.
Pembahasan
1. Konteks Isu
AI sebagai Katalis Self-Branding Digital Bagi mahasiswa Informatika, self-branding mencakup presentasi solusi teknis, kontribusi open source, dan kemampuan bercerita. Peran AI saat ini adalah:
- Optimasi Profil Cepat: Di Linkedln, AI digunakan untuk mengoptimalkan headline, menyusun deskripsi perkerjaan, atau bahkan menyarankan siapa yang harus dikoneksikan.
- Produksi Konten Instan: AI Generatif (visual dan teks) memungkinkan pembuatan caption Instagram, desain infrografis, atau draft esai teknis di Medium dalam hitungan menit. Ini meningkatkan kreativitas, tetapi menurunkan standar usaha (effort).
- Tuntutan Ganda: Mahasiswa dituntut untuk terlihat berpprestasi (kredibilitas) sekaligus otentik (keterlibatan). AI memfasilitasi pencapaian citra berprestasi secara instan, namun ketika citra tersebut tidak sejalan dengan realitas, hal ini memicu konflik etika.
Pertarungan etika terjadi karena AI membuat produksi citra ideal menjadi sangat mudah, sehingga memicu persaingan tidak sehat dan memaksa indivisu menampilkan citra yang tidak berkelanjutan atau palsu.
2. Analisis & Argumentasi
Etika di Persimpangan AI, Kreativitas, dan Eksploitasi
A. Kreativitas Berbantuan AI dan Batasan Keaslian (Authenticity) Kreativitas dalam self-branding yang memberdayakan terjadi ketika AI digunakan sebagai alat bantu, bukan pengganti ide:
- AI sebagai Drafting Partner: Mahasiswa menggunakan AI untuk memeriksa tata bahasa pada post teknis atau membuat kerangka portofolio, yang memungkinkan mereka fokus pada kualitas substansi.
- Membangun Jaringan Otentik: Konten yang berbobot secara intelektual, meskipun dibantu editing AI, tetap harus mencerminkan pengalaman dan keahlian nyata mahasiswa.
B. Dampak Eksploitasi Diri dan Kecurangan AI (Inauthenticity)
Eksploitasi diri diperparah oleh AI melalui:
- Kecurangan Identitas Digital (Digital Inauthenticity): Penggunaan AI untuk menghasilkan seluruh isi portofolio, cover letter, atau bahkan kode dasar tanpa atribusi atau usaha, merupakan bentuk kecurangan etis. Ini menciptakan citra diri palsu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan saat diuji dalam wawancara kerja.
- Perdagangan Burnout yang Dipicu Algoritma: Algoritma media sosial mendorong engagement tinggi pada cerita personal dan emosional (termasuk burnout). AI dapat digunakan untuk menyusun cerita burnout yang paling relatable dan dramatis, mendorong mahasiswa mengeksploitasi pengalaman traumatis atau menciptakan narasi penderitaan yang dilebih-lebihkan demi like.
- Ketergantungan Kognitif: Ketergantungan pada AI untuk menyusun setiap caption atau memecahkan masalah pemrograman menghambat pengembangan kemampuan komunikasi dan berpikir kritis mandiri. Mahasiswa menjadi komoditas AI, bukan talenta mandiri.
3. Solusi dan Rekomendasi Etika Self-Branding di Era AI
Untuk memastikan self-branding mahasiswa tetap etis, berkelanjutan, dan transparan,
perlu diterapkan prinsip-prinsip berikut:
- Prinsip Atribusi dan Keterbukaan (AI Usage Disclosure): Mahasiswa harus mengadopsi etika transparansi. Jika AI digunakan secara siginifikan dalam produksi konten (misalnya, AI yang menyusun kerangka esai atau optimasi profil), hal tersebut wajib diungkapkan (disclose) secara jelas, mirip dengan mengutip sumber.
- Fokus pada Karya Nyata yang Tidak Dapat Di-AI-kan: Arahkan self-branding pada artefak yang menurut human touch unik yaitu, pengalaman proyek end-to-end, pemecahan masalah yang kompleks (bukan yang standar yang sudah ada di basis data AI), dan refleksi personal yang mendalam.
- Manajemen Waktu dan Kesehatan Digital: Tentukan jadwal berbagi konten yang realistis. Sadari bahwa istirahat digital sangat penting, dan AI tidak boleh menjadi alasan untuk “selalu aktif”.
- Audit Etika Konten: Lakukan audit reguler. Sebelum mengunggah, tanyakan, “Apakah output ini mencerminkan kompetensi asli saya, ataukah saya hanya menggunakan AI untuk menghindari usaha?”
Kesimpulan
Self-branding di era AI adalah keniscayaan profesional, namun juga ujian etika yang sesungguhnya bagi mahasiswa Informatika. AI telah menjadi pendorong utama yang membuat praktik self-branding menjadi lebih mudah secara kreatif, tetapi jauh lebih rentan terhadap eksploitasi diri dan kecurangan identitas digital. Keberhasilan jangka panjang tidak diukur dari jumlah like yang dihasilkan AI, melainkan dari keaslian, konsistensi, dan transparansi penggunaan alat tersebut. Mahasiswa harus didorong untuk menguasai Literasi AI Etis, menggunakan AI sebagai co-pilot yang meningkatkan kualitas, bukan sebagai pengganti integritas pribadi dan profesional.
Referensi / Sumber
- Cajucom, J. (2025, Januari 13). Why Younger Generations Are Redefining Personal Branding (And What We Can Learn). From medium.com: https://medium.com/@jennette_cajucom/why-younger generations-are-redefining-personal-branding-and-what-we-can-learn-be1fd16406ab
- Hugh, M. (1995, June). The Presentation of Self in Electronic Life: Goofman on the Internet. From Paul Dourish: https://www.dourish.com/classes/ics234cw04/miller2.pdf
- Kompas Muda. (2018, November 7). Membangun Personal Branding di Instagram. From muda.kompas.id: https://muda.kompas.id/baca/2018/11/07/membangun-personal-branding-di-instagram/
- Murphy, M. (2025, April 30). Redefining Professionalism: How Gen Z is Reshaping Leadership Through Authenticity and Mental Health Awareness. From linkedin.com: https://www.linkedin.com/pulse/redefining-professionalism-how-gen-z-reshaping-through-molly-murphy-omhbe/
Penulis
Nama : Gisela Sesaria Kusthika Putri
Divisi : Bisnis dan Kewirausahaan
